depo 10k slot depo 10k

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

happy.com.tr

ArtSubsMetro RayaUTAMA

ARTSUB 2026 Dibuka: Pamerkan Karya Miliaran dan Foto Bencana Lumpur Sidoarjo

Pameran seni rupa kontemporer ARTSUB 2026 resmi dibuka pada 19 September 2026 di Balai Pemuda, Surabaya, menampilkan sekitar 500 karya dari 120 seniman. Budayawan dan kurator, Nirwan Dewanto, mengungkapkan harapannya agar acara ini dapat memenuhi kebutuhan Surabaya sebagai kota besar yang mendambakan ruang kebudayaan yang dapat menyatukan seni, masyarakat, dan berbagai aspek kehidupan.

Pameran dengan Tema yang Dalam

ARTSUB 2026 berlangsung hingga 8 November 2026, mengajak pengunjung untuk merenungkan kembali bencana Lumpur Sidoarjo yang terjadi dua dekade lalu. Sebanyak 140 foto yang menggambarkan tragedi tersebut dan sisi kemanusiaannya dipamerkan di zona 4. Karya-karya ini merupakan hasil jepretan dari fotografer komunitas, termasuk Matanesia, Komunitas Minggu Motret, Melihat Bersama, serta Disabilitas Berkarya.

Di antara foto-foto yang dipamerkan, terdapat gambar yang menunjukkan saat lumpur mulai merendam wilayah Porong, Sidoarjo, diambil oleh Mamuk Ismuntoro dari Matanesia, yang pada waktu itu bekerja di media cetak di Surabaya. Salah satu foto yang mencolok adalah potret seorang mempelai perempuan yang mengenakan gaun pengantin di tengah bencana yang mengelilingi rumahnya.

Sisi Kemanusiaan dalam Bencana

Fotografer Danang dari Komunitas Minggu Motret juga menyajikan momen berharga, seperti gambar seseorang yang sedang khusyuk berdoa di atas tanah yang telah mengering. Ketika Danang bertanya mengenai lokasi tersebut, orang itu menjelaskan bahwa tanah tempatnya berdoa dulunya adalah makam keluarganya.

Inovasi dalam Seni Rupa Kontemporer

ARTSUB 2026 mengusung tema Border (Batas), Treshold (Ambang), dan Beyond (Seberang), serta menampilkan museum alternatif yang digagas oleh kelompok seniman yang dikenal dengan Kantor Bersama Urusan Seni Rupa (KBUSR). Menurut kurator Asmujo, kehadiran KBUSR menunjukkan bahwa museum tidak harus selalu berbentuk institusi formal, tetapi bisa muncul dari inisiatif komunitas seni sebagai ruang alternatif bagi publik untuk mengenal dan memahami perkembangan seni rupa.

Seni rupa kontemporer sering kali dianggap rumit oleh sebagian masyarakat. Namun, ARTSUB berupaya menyajikan beragam karya yang memungkinkan setiap kelompok publik menemukan titik pertemuan mereka. Nirwan Dewanto menjelaskan, “Ada karya yang lebih mudah dipahami dan dinikmati oleh masyarakat umum, tetapi juga terdapat karya yang lebih personal, konseptual, dan reflektif, menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton yang lebih mendalam dalam apresiasi seni.”

Interaksi dalam Karya Seni

Salah satu karya yang menarik perhatian pengunjung adalah karya interaktif dari Thalia Halim dan Samuel Alexander. Dalam instalasi ini, pengunjung dapat mengontrol enam “kelopak bunga” yang tersedia. Cukup dengan berdiri di titik yang telah ditentukan dan menggerakkan tangan di depan layar, mereka dapat berinteraksi langsung dengan karya seni tersebut.

Beragam Karya yang Menggugah

Perupa Njoman Nuarta mempersembahkan beberapa karya berbahan tembaga dan kuningan, termasuk miniatur dari karya monumentalnya, Istana Garuda, yang terletak di Ibu Kota Nusantara (IKN). Karya-karya ini menunjukkan keahlian dan kreativitas tinggi yang dihadirkan oleh seniman Indonesia.

Sementara itu, Zeta Ranniry Abidin menampilkan karya bertajuk Borderless: Keep the Light Alive, yang lahir dari kepeduliannya terhadap kondisi Indonesia saat ini. “Awalnya saya menggambarkan Indonesia yang gelap, tetapi saya mulai bertanya-tanya apakah yang rusak masih bisa diperbaiki,” ungkapnya mengenai lukisan berukuran 6 x 2 meter tersebut.

Representasi Cahaya dalam Kegelapan

Dalam proses kreatifnya, Zeta kemudian mencoretkan warna-warna cerah pada lukisannya yang awalnya terlihat suram, sebagai simbol bahwa masih ada harapan. “Menjaga cahaya bukan berarti menyelesaikan seluruh kegelapan,” tambahnya, menunjukkan ketidakpastian apakah karyanya akan terus berkembang.

Pentingnya Perjalanan Hidup dalam Seni

Perupa Boya menyampaikan perjalanan hidup setiap individu melalui media kain perca dan dakron yang ditempelkan di rumah putihnya yang beralas batu kerikil. Seniman asal Bandung ini mengungkapkan bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing dalam menjalani kehidupan. “Ada yang sudah mencapai mimpi, ada yang masih berjuang menghadapi masalah, dan ada juga yang terus melanjutkan perjalanan,” katanya.

Makna di Balik Karya

“Kenapa rumah ini tidak berada dalam gedung? Karena itu akan terkesan seperti rumah dalam rumah. Kerikil ini saya pilih dengan sengaja, bukan rumput atau karpet, karena hidup itu penuh dengan kerikil yang kita injak,” jelas Boya, menegaskan makna mendalam di balik karyanya.

Apresiasi Terhadap Karya Seni

Mewakili Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, staf ahli bidang kemasyarakatan dan SDM, Sukma Kurniawati, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pameran ini. Ia berharap masyarakat Surabaya dapat menikmati dan meresapi setiap karya yang ditampilkan. “Tidak cukup sehari untuk menyaksikan semuanya. Mari beramai-ramai menikmatinya,” ujarnya saat memberikan sambutan sebelum pembukaan ARTSUB 2026.

Dengan berbagai karya yang menggugah dan tema yang mendalam, ARTSUB 2026 menjadi sebuah ruang refleksi yang menggambarkan perjalanan seni dan kehidupan masyarakat. Pameran ini tidak hanya menghadirkan seni dalam bentuk visual, tetapi juga mengajak pengunjung untuk merenungkan makna di balik setiap karya yang dipamerkan. Seiring dengan berjalannya waktu, pameran ini diharapkan dapat terus menjadi jembatan antara seni dan masyarakat, serta mendorong partisipasi aktif dalam dunia seni rupa kontemporer.

Related Articles

Back to top button