Jalur Alternatif Medan-Berastagi untuk Wisatawan Akan Dibangun Mulai 2027

Rencana ambisius untuk membangun jalur alternatif Medan-Berastagi akan dimulai pada tahun 2027, sebagai respons terhadap kebutuhan akan peningkatan konektivitas bagi para wisatawan. Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengungkapkan hal ini saat menerima audiensi dari Ikatan Cendekiawan Karo (ICK) di Mikie Holiday Resort and Hotel, Sempajaya, Kabupaten Karo. Pembangunan jalur alternatif ini merupakan langkah strategis untuk mendukung proyek jalan tol Medan-Berastagi yang sedang diusulkan kepada Bappenas sebagai bagian dari cetak biru pembangunan nasional.
Tujuan dan Manfaat Jalur Alternatif
Pembangunan tol Medan-Berastagi diprediksi memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga pemerintah provinsi mengambil inisiatif untuk melakukan intervensi pada ruas-ruas jalan yang saat ini berstatus jalan kabupaten, provinsi, serta jalan nasional di wilayah Deli Serdang dan Karo. Gubernur Bobby menjelaskan, “Kami akan mulai melakukan intervensi fisik pada tahun 2027 dengan target penyelesaian antara 2028 hingga 2029.”
Jalur alternatif ini ditujukan khusus untuk kendaraan wisata, termasuk kendaraan dengan jumlah roda enam atau kurang, sedangkan kendaraan logistik akan tetap menggunakan jalur utama Jalan Jamin Ginting. Harapannya, jalur ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas bagi wisatawan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.
Penataan Kawasan Wisata
Pembangunan jalur alternatif ini juga akan disertai dengan penataan kawasan wisata di sekitar Berastagi. Beberapa lokasi yang menjadi fokus perhatian termasuk Tahura dan Tugu Perjuangan Berastagi. Namun, penataan ini tidak akan diarahkan untuk pembangunan fasilitas komersial besar seperti mal atau hotel. Sebaliknya, Pemprov Sumut lebih memprioritaskan kebutuhan dasar kawasan seperti:
- Penerangan jalan yang memadai
- Sistem drainase yang efisien
- Jalur pedestrian yang aman
- Ruang publik yang ramah bagi pengunjung
- Pengembangan infrastruktur pendukung lainnya
“Kami berharap langkah ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat,” tambah Bobby.
Rencana Teknis Pembangunan
Kepala Dinas Bina Marga, Bina Konstruksi dan Cipta Karya (BMBK-CK) Sumut, Chandra Dalimunthe, menjelaskan beberapa rencana teknis terkait jalur alternatif ini. Salah satunya adalah pelebaran ruas jalan Medan-Namorambe-Sembahe. Dari kawasan Hairos atau Simpang Poci di Jalan Jamin Ginting, kendaraan wisata akan diarahkan untuk berbelok ke kiri melalui jalur alternatif yang saat ini merupakan jalan kabupaten.
Ruas jalan ini direncanakan akan ditingkatkan kapasitasnya dari sekitar 4 meter menjadi 6-8 meter. Selain itu, sekitar 18 kilometer dari ruas jalan tersebut akan ditingkatkan statusnya menjadi jalan provinsi. Di kawasan Sembahe, juga direncanakan pembangunan jalan pintas dan overpass. Jalan baru sepanjang sekitar 330 meter dan overpass sepanjang 82 meter akan dibangun untuk melintasi jalan nasional menuju Tandu Benua, yang diharapkan dapat mengurangi hambatan dalam perjalanan menuju Berastagi.
Pembangunan Rest Area yang Nyaman
Pemerintah Provinsi Sumut juga merencanakan pembangunan rest area berskala besar di Suka Nalu, yang akan terletak sekitar 14 kilometer menuju SMK Negeri Murni. Rest area ini akan dirancang dengan konsep terbuka, sehingga menjadi tempat persinggahan yang nyaman bagi wisatawan. Selain itu, ada rencana untuk membangun alignment baru sepanjang sekitar 3,8 kilometer dari kawasan Sibiru-biru melalui Pertamina hingga Simpang Ketaren. Secara keseluruhan, intervensi jalan pendukung dari Medan menuju kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 28 kilometer.
Respons Positif dari Masyarakat dan Akademisi
Perwakilan ICK, Prof. Sukarya Sinulingga, menyambut positif rencana pembangunan jalur alternatif ini. Ia berpendapat bahwa proyek ini dapat menjadi solusi untuk beberapa titik kemacetan yang selama ini menghambat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik antara Karo dan Medan. “Jika rencana ini terealisasi, ada tiga hingga empat titik kemacetan parah yang dapat terurai,” ungkapnya.
Chandra menambahkan bahwa desain teknis dan perhitungan anggaran untuk proyek ini masih akan disusun oleh Dinas BMBK-CK Sumut dengan melibatkan masukan dari tokoh masyarakat Karo dan kalangan akademisi. Pekerjaan fisik direncanakan akan dilakukan secara bertahap mulai tahun anggaran berikutnya, dengan harapan dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke daerah tersebut.
Pentingnya Keterlibatan Masyarakat
Keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan jalur alternatif ini sangatlah penting. Dengan melibatkan tokoh masyarakat dan akademisi, diharapkan proyek ini tidak hanya memenuhi kebutuhan infrastruktur, tetapi juga selaras dengan harapan dan aspirasi masyarakat lokal. Ini juga menjadi langkah untuk memastikan bahwa pembangunan yang dilakukan dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi semua pihak.
Pemerintah Provinsi Sumut berharap, dengan adanya jalur alternatif Medan-Berastagi ini, dapat tercipta konektivitas yang lebih baik, mendukung pengembangan sektor pariwisata, serta meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Proyek ini diharapkan akan menjadi langkah awal dalam membangun infrastruktur yang lebih baik dan berkelanjutan untuk masa depan.
