Krisis Kesehatan Mengancam Stabilitas Iran: Apa yang Harus Diketahui?

Dalam beberapa bulan terakhir, Iran telah menghadapi tantangan serius yang mengancam stabilitas negara, terutama dalam sektor kesehatan. Serangan udara yang terus-menerus terhadap berbagai target di negara ini telah memberikan dampak yang menghancurkan pada sistem layanan kesehatan yang sudah rapuh. Laporan-laporan yang muncul menunjukkan bahwa kondisi ini tidak hanya berpengaruh pada infrastruktur medis tetapi juga pada kehidupan jutaan warga Iran.
Dampak Serangan Terhadap Infrastruktur Kesehatan
Pejabat Iran mengungkapkan bahwa banyak pabrik farmasi dan fasilitas kesehatan telah menjadi sasaran serangan sejak dimulainya kampanye pengeboman oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari. Salah satu fasilitas yang terpengaruh adalah Tofigh Daru, yang terkenal sebagai produsen obat-obatan untuk penyakit kanker. Serangan ini telah mengakibatkan kerusakan yang signifikan pada fasilitas tersebut.
Menurut Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tidak hanya Tofigh Daru yang menderita akibat serangan; banyak institusi lainnya, termasuk Institut Pasteur Iran dan beberapa rumah sakit di luar Teheran, juga mengalami kerusakan. WHO melaporkan lebih dari 20 serangan terhadap sistem kesehatan di Iran yang mengakibatkan setidaknya sembilan kematian.
Pernyataan Para Ahli Hukum Internasional
Lebih dari seratus pakar hukum internasional, yang terdiri dari profesor terkemuka dari universitas ternama di Amerika Serikat, telah mengecam serangan yang menargetkan fasilitas kesehatan dan pendidikan. Mereka mengacu pada laporan Bulan Sabit Merah Iran yang mencatat bahwa dalam periode tiga minggu pertama konflik, 236 pusat kesehatan telah dibombardir.
Setelah insiden di Tofigh Daru, Wakil Menteri Kesehatan Iran, Mehdi Pirsalehi, menyatakan bahwa fasilitas tersebut menjadi sasaran “serangan rudal langsung.” Ia menekankan bahwa pabrik ini merupakan salah satu penghasil utama bahan aktif untuk obat-obatan yang digunakan di rumah sakit dan untuk prosedur bedah.
Pentingnya Fasilitas Kesehatan dan Obat-obatan
Israel membenarkan serangan tersebut, mengklaim bahwa Tofigh Daru menyalahgunakan statusnya sebagai perusahaan sipil untuk menyuplai bahan kimia kepada pemerintah Iran. Di antara bahan kimia yang disebutkan adalah fentanil, obat anestesi yang sangat berbahaya dan adiktif. Menurut Dr. Hassan Nayeb-Hashem, mantan dokter di Iran yang kini tinggal di Wina, Tofigh Daru memainkan peranan penting dalam produksi obat-obatan esensial di negara tersebut.
- Pabrik ini bertanggung jawab atas sebagian besar produksi obat-obatan di Iran.
- Tofigh Daru berhasil melokalisasi 50 bahan aktif strategis.
- Serangan terbaru telah menyebabkan hilangnya sejumlah besar obat dari rantai pasokan domestik.
- Dampak keterlambatan rantai pasokan dapat langsung mempengaruhi pasien yang sedang menjalani terapi.
- Obat kanker di Iran merupakan salah satu terapi paling mahal, setara dengan satu hingga dua bulan gaji.
Perusahaan asuransi kesehatan di Iran sering kali menolak untuk menanggung biaya obat-obatan impor, yang semakin memperburuk akses pasien terhadap pengobatan yang mereka butuhkan. Baik Dr. Nayeb-Hashem maupun rekannya, Hamid Hemmatpour, sepakat bahwa penghancuran fasilitas medis secara sengaja bisa dianggap sebagai pelanggaran berat hukum internasional dan peraturan WHO.
Kondisi Darurat dalam Sistem Kesehatan
Hemmatpour, yang juga kini tinggal di Wina, memberikan peringatan bahwa kerusakan pada industri farmasi di Iran bisa menjadi “pukulan mematikan” bagi sistem kesehatan negara. Ia menyatakan bahwa dalam situasi perang, sangat sulit untuk mengimpor obat-obatan dari negara lain seperti India. Selain itu, Hemmatpour mengungkapkan masalah lain yang dihadapi, yaitu kekurangan tenaga medis.
Seiring dengan meningkatnya kerusakan fisik pada fasilitas kesehatan, banyak dokter dan ahli bedah yang berpengalaman tidak dapat kembali ke Iran karena alasan keamanan. Pada awal konflik, banyak dokter dengan kewarganegaraan ganda meninggalkan negara melalui perbatasan dengan Armenia atau Turki, sementara pemerintah Iran berusaha menghalangi dokter lainnya untuk keluar.
Beban Kerja yang Berat bagi Tenaga Medis
Akibat situasi ini, dokter yang tersisa harus menghadapi beban kerja yang sangat berat. Di beberapa daerah di Teheran, satu dokter harus menangani antara 200 hingga 300 pasien dalam sehari, dan kondisi ini jauh lebih parah di luar ibu kota. Dr. Nayeb-Hashem, seorang dokter senior dan aktivis, memperingatkan bahwa dampak dari perang ini kemungkinan akan dirasakan dalam jangka waktu yang lama.
Tragedi sebenarnya, menurutnya, adalah bahwa meskipun perang berakhir, pemerintah Iran mungkin akan lebih memprioritaskan pembangunan kembali fasilitas militer ketimbang memperbaiki layanan kesehatan dan keselamatan masyarakatnya. Dengan situasi yang semakin kritis, masyarakat Iran berisiko menghadapi krisis kesehatan yang lebih dalam jika tidak ada langkah segera yang diambil untuk memperbaiki infrastruktur medis yang hancur.

