Peningkatan Harga Minyak Goreng di Sumut Akibat Konflik Iran-AS/Israel Menjangkau Pasar Tradisional

Konflik geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah, terutama antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, merambat hingga ke meja makan warga Sumatera Utara. Bukan tanpa sebab, konflik ini berdampak pada peningkatan harga minyak goreng di Sumut, yang memberikan tekanan tambahan bagi kehidupan masyarakat.
Peningkatan Harga Minyak Mentah dan Dampaknya pada Harga Minyak Kelapa Sawit
Perang di Timur Tengah berdampak langsung pada harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah sempat mencapai level 120 dolar AS per barel, yang berimbas pada peningkatan harga komoditas minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya, termasuk minyak goreng curah. Fenomena ini dikenal sebagai efek domino.
Gunawan Benjamin, seorang pengamat ekonomi dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), menjelaskan bahwa kenaikan harga CPO dunia saat ini didorong oleh ekspektasi pasar bahwa mahalnya minyak mentah akan meningkatkan permintaan CPO untuk bahan baku biodiesel.
Harga Minyak Goreng di Sumut Mengalami Kenaikan
Harga CPO global tercatat menguat ke level 4.570 ringgit per ton, melonjak signifikan dibandingkan posisi akhir Februari yang masih berada di kisaran 4.000 ringgit per ton. Kenaikan ini langsung merembes ke harga eceran minyak goreng di Sumut.
Menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), rata-rata harga minyak goreng curah di Sumut naik dari Rp19.200 menjadi Rp19.450 per kilogram. Namun, di beberapa titik, kenaikan terjadi jauh lebih tajam. Gunawan menekankan bahwa kenaikan ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal daripada sekadar dinamika pasar domestik.
- Jika ditelusuri lebih dalam, kenaikan di lapangan berkisar antara Rp500 hingga Rp1.500 per kilogram.
- Kenaikan tertinggi mencapai Rp1.500 terjadi di Pasar Brayan, Kota Medan, dan Aek Habil, Kota Sibolga.
- Sementara di Pasar Petisah Medan, kenaikan terpantau sekitar Rp500 per kilogram,” kata Gunawan.
Dampak Kenaikan Harga Minyak Goreng Terhadap Kebutuhan Domestik dan Ekspor
Adanya tarikan permintaan ekspor yang kuat seiring kenaikan harga global membuat produsen harus membagi fokus antara pasar internasional dan kebutuhan produksi dalam negeri. Analisis penyebab kenaikan harga minyak goreng curah di Sumut menunjukkan bahwa fluktuasi harga minyak mentah dunia, permintaan minyak goreng yang meningkat selama Ramadan hingga Idulfitri, serta dampak langsung signifikan eskalasi perang di Timur Tengah pada komoditas sembako menjadi faktor utamanya.
Pelaku pasar dan masyarakat diimbau untuk mewaspadai pola kenaikan harga yang diprediksi akan semakin tajam saat memasuki periode H-7 Idulfitri. Gunawan menambahkan, “Kenaikan harga minyak goreng curah ke depan akan sangat bergantung pada dinamika harga CPO dunia yang dipengaruhi konflik Iran–AS/Israel. Pemerintah perlu memastikan keseimbangan antara pemenuhan permintaan ekspor dan ketersediaan stok untuk konsumsi masyarakat Sumut yang sedang meningkat.”
Pentingnya Pengawasan Rantai Distribusi Minyak Goreng
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, pengawasan terhadap rantai distribusi di wilayah seperti Medan dan Sibolga menjadi krusial agar kenaikan harga tidak melampaui batas kewajaran yang dapat memicu kepanikan konsumen. Penjualan minyak goreng kemasan di pasar Tradisional juga perlu mendapatkan perhatian lebih.